Menjelajah Bekas Rumah Oei Tiong Ham si Radja Goela Semarang

Menjelajah Bekas Rumah Oei Tiong Ham si Radja Goela Semarang

Oei Tiong Ham.

Ada yang pernah denger nama tokoh di atas?

Atau ada yang tau tentang sejarah singkatnya?

Hmm, atau mungkin ada yang tau dimana bekas rumah Oei Tiong Ham?

Ah, banyak tanya nih.

Maaf ya kalo gue banyak tanya, itu semata-mata karena wanita butuh kejelasan aja 😂

Okay, sorry jadi out of topic!

Serius nih, ada yang udah pernah tau belom siapa Oei Tiong Ham?

Minimal tau aja kalo ia dulunya dikenal dengan julukan si Radja Goela Semarang.

Yaudah, mungkin sebagian besar dari Kalian belum banyak yang tau tentang Oei Tiong Ham.

Yang jelas dia bukan opa gue apalagi bokap gue, tapi dia sempat masuk di deretan daftar nama orang terkaya di Indonesia di jamannya. Nama Oei Tiong Ham sempat sohor sebagai Raja Candu Terakhir Semarang, namanya juga sempet dijadiin nama jalan di Semarang & Singapore, dan gak sampai di situ, namanya juga terkenal sebagai nama park di Singapore.

Kapan itu Li? Eh, gimana sih ceritanya?

Sabar dulu, gue certain pelan-pelan ya, soalnya materi sejarah ini.

Jadi, pertama kali gue denger nama Oei Tiong Ham itu pas gue diajak private guide gue di Semarang (gue yakin kalian pasti tau siapa namanya dan ini kali ketiga gue mention doi, siapa lagi kalo bukan, masvay) buat ikutan walking tour.

Sebelum ngobrol lebih jauh, gue cuma mau info sedikit tentang walking tour.

Pertama gue diajakin juga gue belom tau itu apaan, katanya sih cuma tour jalan kaki. Biasanya tour akan berjalan sekitar 2-4 kilometer dalam waktu 2-3 jam. Dalem hati pas gue denger itu, gile juga, bisa tepar nih gue kalo ikutan karena malemnya gue abis banyak jalan kaki seudah nonton Semarang Night Carnival 2017.

Tapi setelah gue pikir-pikir, sayang rasanya kalo dilewatin gitu aja. So gue pilih ikutan walking tour, soalnya kapan lagi gue bisa ikutan? Mumpung lagi di sana. Nah, akhirnya gue putusin buat join walking tour-nya @bersukariawalkingtour.

Oei Tiong Ham

Ini banner walking tour di IG-nya Bersukaria

Ada 1 guide yang cakep dan siap mimpin rumah tangga perjalanan kita, kebetulan rute di Minggu pagi itu keliling bekas rumah Oei Tiong Ham si Radja Goela Semarang.

Eh iya, yang penting buat Kalian tau, sistem pembayaran walking tour itu pay as you want.

Iya, serius!

Kalo Kalian lagi ada duit dan ngerasa puas sama tour-nya, bisa kasih tipping gede sampe 100Rb-an. Tapi kalo-kalo Kalian lagi bokek nih, mau kasih 5Rb (kalo tega 😂) juga ga ada yang tau.

Nanti tipping akan diberikan di akhir tour pas si guide menutup acara.

Ternyata gak cuma di Semarang aja, walking tour juga ada di Jakarta, Jogja dan Lombok. Kalo yang Jakarta gue udah ikut 2 kali setelah ikut walking tour yang di Semarang, di kesempatan berikutnya bakal gue tulisan ya cerita walking tour di Jakartanya.

Nah itu sekilas tentang walking tour, kembali ke topic pembahasan kita.

Ternyata Kalian bukan satu-satunya orang yang baru denger nama Oei Tiong Ham karena gue juga waktu itu baru pertama kali denger.

Sekitar pukul 8 pagi gue dan Echi sampe di Taman Menteri Supeno atau lebih dikenal dengan nama Taman KB. Sampai sana, kami sudah janjian dengan Masvay dan langsung ketemu dengan Mas Fauzan, guide walking tour Bersukaria. Ternyata ada 1 peserta lagi, namanya Neni.

Oei Tiong Ham

Taman KB Semarang

Oei Tiong Ham

Bermain skateboard di Taman KB

Gue kenal Taman KB karena banyak tukang tahu gimbal di sini, eh ternyata kalo hari Minggu pagi beda, enggak cuma ada tukang makanan aja tapi juga ada tukang baju, kerudung, pernak pernik, barang-barang elektronik dan benda lain dari yang penting sampe gak penting haha. Ternyata kalo Minggu pagi ada Car Free Day di daerah sana, pantes 😂

Lebih spesial lagi, banyak orang menghabiskan waktu di taman yang selesai dibangun sejak tahun 1975 itu. Ada yang olah raga bersama pasangan, keluarga, ada yang main skateboard, ada yang jajan-jajan aja sampe ada yang cuma numpang lewat aja (itu kami).

Oei Tiong Ham

Ramainya taman KB di hari Minggu

Oei Tiong Ham

Street food-nya bikin ngiler

Oei Tiong Ham

Suasana car free day di jalan raya

Setelah menerobos deretan tukang jajan itu, Mas Fauzan mulai bercerita tentang siapa sih Oei Tiong Ham, kenapa namanya sangat terkenal sampai ke Singapore? Tapi orang kita, malah belum familiar dengan nama sosok yang satu ini.

Oei Tiong Ham

Oei Tiong Ham

So, Oei Tiong Ham merupakan anak kedua dari pasangan Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio. Ia lahir di Semarang tanggal 19 November 1866. Ayahnya merupakan seorang pedagang asal Tiongkok yang melakukan pelarian menggunakan sebuah kapal dan akhrinya sampai di Semarang. Lalu sang ayah membuka usaha dupa dan gambir di sana, tepat di tahun 1863 ia mendirikan Kongsi Kian Gwan.

Tahun 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia dalam usia 65 tahun di rumahnya, daerah Penggiling – Simongan Semarang. Sedangkan istrinya, Tjan Bien Nio mendahuluinya meninggal 4 tahun lebih dulu di 1896 pada usia 57 tahun. Keduanya dimakamkan di pemakaman keluarga yang udah disiapin, gak jauh dari Kota Semarang.

Berdasarkan info yang gue baca, Oei Tjie Sien membeli tahan itu lantaran geram dengan Yohannes, tuan tanah turunan Yahudi yang waktu itu memiliki lahan tersebut. Di daerah tersebut terletak Sam Po Kong yang biasanya setiap tanggal 1 dan 15 kalender Imlek, ataupun setiap Selasa dan Jumat Kliwon selalu ramai dikunjungi untuk sembahyang.

Tuan Yohannes memungut cukai kepada para peziarah dan hal ini membuat Oei Tjie Sien geram sampai akhirnya membeli tanah tersebut. Setelah tanah dimiliki Oei Tjie Sien, para peziarah bebas berkunjung dan bebas dari pemungutan cukai di Sam Po Kong.

Tahun 1890-an, Oei Tiong Ham mendirikan bisnis Oei Tiong Ham Concern dengan bisnis utamanya gula tebu. Pada waktu itu, gula adalah barang mewah untuk dikonsumsi, kalau kata kita sekarang “..makan gula kek makan daging

Saking besarnya Oei Tiong Ham punya bisnis gula, ia sampai punya lima perkebunan dan penggilingan tebu di Jawa: Pakis, Rejoagung, Krebet, Tanggulangin, dan Ponen. Semua ia raih sebelum usianya menginjak 30 tahun.

Gak Cuma bermain di bisnis gula, Oei Tiong Ham juga menjalankan bisnis lain seperti perkapalan, perbankan, pabrik tepung tapioca, pergudangan, sampai perusahaan properti. Walaupun ia gak lancar bahasa Inggris dan Belanda, namanya bisa terdengar sampai ke seluruh Asia, Australia, Amerika bahkan Eropa. Sampai akhirnya, Oei Tiong Ham terkenal sebagai Radja Goela dari Semarang.

Sebelum bisnis gulanya mendunia, Oei Tiong Ham juga telah merintis usaha candu (dalam bentuk opium). Pada tahun 1887, ia meluaskan usaha candunya dari Semarang ke Kudus sampai Mayong.

Oei Tiong Ham

Kantor Gubernur Jawa Tengah

Oei Tiong Ham

Jalan Veteran, Semarang

Oei Tiong Ham

Bangunan asli rumah tua di daerah bekas rumah Oei Tiong Ham

Salah satu warisannya yang masih tampak megah hingga kini adalah sebuah kediamannya yang masih berdiri di kawasan Gergaji, Semarang. Luas bekas kediamannya itu 81 hektare bahkan jumlah kamar di kediamannya mencapai 16-18 kamar!

Dulu, di tanah miliknya gak cuma ada bangunan rumah utama aja tetapi juga ada taman, gazebo sampai kebun binatang. Kebayang dong ya segimana luasnya itu rumah Oei Tiong Ham.

Cuma sekarang rumahnya sudah tidak berbentuk rumah lagi, sejak disita pemerintah tanah miliknya menjadi beberapa bangunan pemerintahan. Saat ini berdiri kantor Gubernur Jawa Tengah dekat Taman KB dan bangunan utama rumahnya kini ini menjadi Kantor OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Bahkan halaman belakang bekas rumah Oei Tiong Ham dulu kini menjadi sebuah perkampungan.

Iya, perkampungan.

Serius, ada banyak gang-gang perkampungan di belakang rumah si Radja Goela Semarang itu. Bener-bener luar banget deh bekas kawasan rumahnya itu.

Oei Tiong Ham

Kantor OJK

Oei Tiong Ham

Penanda tempat sembayang keluarga Oei Tiong Ham dulu

Oei Tiong Ham

Toilet yang diperkirakan bekas kandang kuda Oei Tiong Ham

Lanjut cerita tentang Oei Tiong Ham, ia memiliki 8 orang istri dan 26 anak.

Saat ia mulai sakit, ia ingin membagikan harta warisannya ke 9 anak saja.

Kenapa gak ke semua anak? Karena cuma 9 anak inilah yang ia percaya dapat meneruskan usahanya.

Tapi ternyata di Indonesia, keinginan seperti itu belum bisa diwujudkan karena aturan pemerintah Hindia Belanda yang berlaku pada saat itu mengharuskan pembagian warisan secara merata sesuai jumlah anak.

Sampai akhirnya, tahun 1921 Oei Tiong Ham pindah ke Singapore untuk mengurus pembagian warisan sesuai yang ia kehendaki.

Tidak lama kemudian di tahun 1924, Oei Tiong Ham meninggal dunia karena sakit jantung.

Setelah kepergian Oei Tiong Ham, Oei Tiong Ham Concern diambil alih oleh Oei Tjong Hauw, putra Oei Tiong Ham yang sangat ia percaya. Bersama Oei Tjong Hauw, perusahaan keluarga itu bertahan hingga berhasil melewati masa-masa sulit kala itu.

Tepat di tahun 1950, Oei Tjong Hauw terserang penyakit jantung yang juga membunuh ayahnya hingga ia meninggal dunia. Setelah kepulangannya, Oei Tiong Ham Concern mengalami kemunduran. Keadaan bertambah buruk karena di tahun 1960 kondisi ekonomi dan politik Indonesia sangat tidak baik.

Memasuki tahun 1961, Oei Tiong Ham Concern terancam akan runtuh karena pemerintah menjatuhkan tuduhan adanya kejahatan ekonomi dan bisnis yang dijalankan perusahaan yang sempat mengalami kejayaan di tahun 1890-an itu.

Dan akhirnya, tahun 1964 kejayaan Oei Tiong Ham Concern runtuh. Seluruh asset Oei Tiong Ham Concern disita oleh pemerintah Indonesia. Namun sempat terdengar kabar kalau keputusan tersebut merupakan salah satu cara untuk proses nasionalisasi perusahaan itu.

Semejak keputusan itu berlaku, istana Oei Tiong Ham diambil alih oleh pemerintah. Jalan Oei Tiong Ham atau lebih dikenal dengan Oei Tiong Ham Weg berganti nama menjadi Jalan Pahlawan.

Oei Tiong Ham

Jalan Kyai Saleh, masih kawasan bekas rumah Oei Tiong Ham

Oei Tiong Ham

Rumah di belakang kami merupakan rumah tua seberang kawasan bekas rumah Oei Tiong Ham

Nah, itu dia sebagian dari cerita tentang Oei Tiong Ham yang gue dapet dari walking tour dan beberapa sumber yang terpercaya.

Dan gue jadi inget, beberapa waktu lalu ikut walking tour di Jakarta, gue share pengalaman gue ke peserta lain dan ternyata dia tau kisah ini bahkan cerita Oei Hui Lan, anaknya Oei Tiong Ham yang punya cerita gak kalah menarik sampe dijadiin buku.

Gue happy banget ketemu orang yang sama-sama tau kisah ini, yang sama-sama care enough to share sejarah kota yang pernah dikunjungi.

Semakin gue banyak tau, semakin gue ngerasa cuma punya sedikit informasi.

Ah, makasih banget Mas udah diajakin walking tour!

Oei Tiong Ham

Oleh-oleh dari walking tour di Semarang, berkesan!

Semoga cerita ini bisa bermanfaat buat temen-temen yang belum tau atau mungkin udah tau, kan jadi inget lagi hihi

Okay guys mungkin diantara Kalian ada yang pernah denger cerita tentang Oei Tiong Ham juga, boleh dong ya di-share di kolom komentar 😊

Buat yang belum tau, yuk jalan ke sana supaya Kalian bisa ngerasain sendiri gimana sensasinya tau banyak sejarah di masa lalu.

Selamat jalan-jalan, jangan lupa cerita!



27 thoughts on “Menjelajah Bekas Rumah Oei Tiong Ham si Radja Goela Semarang”

    • Halo Masvay, makasih udah ajak walking tour an selalu mampir di blogku 🙂
      amin, semoga kalo saya ke sana lagi udah boleh masuk ya haha

  • Wah sayangnya kemarin belum sempet ikut walking tour ini. Waktunya sih 😂
    Sempet penasaran baca-baca soal ini pas dari Museum Gula Jawa Tengah. Hm berkesan sekali ya ketika tau ceritanya lalu menjelajahi tempat tempatnya 😍
    Terima kasih Mbak sharing kisahnya

    • Halo Mbak Rini, makasih udah mampir ya.
      Wah, sempet ke Museum Gula Jateng? Ah, asiknya.
      Saya belum sempet ke sana mbak, hihi
      Iya, berkesan, seru cuma ya sayang belum bisa masuk ke dalam.

      Kapan ada waktu, coba ikut walking tour-nya aja mbak.
      Mbak pasti dapet pengalaman seru kaya yg aku dapet 🙂

  • Warga Semarang asli aja cuma sedikit yang tahu sejarah Oei Tiong Ham. Teeutama oranf tua dan yang tinggal di pecinan. Aku waktu kecil sering denger cerita beliau yg difitnah (anak keturunannya, maksd) yah namanya penguasa ingin menguasai harta orang kaya seAsia, hehehee

    • Hi Mbak Wats, makasih ya udah mampir.
      Iya, sayang banget itu. Anak-anak seusia saya di sana mungkin banyak yang belum tau.
      Atau sekalinya tau malah yg terdengar negatif seperti itu.

      Padahal Oei Tiong Ham sangat dihormati di Singapore, Mbak.
      Ah, sayang banget ya.

  • Hai mbak liana, aku mampir lagi nih hehe. Ah aku juga pernah ikut walking tour ini dengan tema yg sama haha. Seru bisa mengenal sejarah yg bahkan orang semarang sendiri tak banyak yg tahu. Sayang sih peninggalan oei tiong ham ga banyak. Di kota lama pun sudah tidak dimiliki keluarga oei.

    Btw mbak neni itu blogger juga loh, pernah ikut walking tour bareng juga hehe.

    • Halo Mas Jo, makasih udah mampir (lagi) 🙂
      semoga enggak bosen ya, hihi

      Kota Lama? bagian sebelah mana yang dulunya itu punya Oei Tiong Ham, Mas? Kalo yg ini saya baru denger.

      Ah iya? Aku ga smepet ngobrol banyak tempo hari pas walking tour bareng. Apa nama blognya, mas?
      Siapa tau bisa mampir juga ke sana 🙂

  • yampun… pas nyampe bagian foto cumi dibakar… langsung kebayang… huhuhuh.. bangunan itu disita pemerintah dan jadi kantor… hmmm… sayang baneget juga apalagi halaman belakangnya dah jadi perkampungan….

    • Hi Mas Uwan, jadi salah fokus ya ke cumi? 😆

      Iya sayang, tapi ada beberapa bangunan peninggalan yang masih asli dan belum diapa-apain.
      Konon katanya kantor OJK-nya itu masih bangunan asli rumah Oei Tiong Ham, Mas.
      Jadi masih ada yang tertinggal, sedikit bangunan asli dan ceritanya 🙂

  • Asik.. dengar cerita perjalanan bisnis orang jaman dulu sering memotivasi. Kebanyakan etnis cina yang hebat di bisnis gitu ya. Cocok kalau keturunannya sering dilabeli sebagai penjual, hehe.

    • Hi Kak Umam, iya, menarik ya.

      Rata-rata orang China memang jiwanya usaha, berdagang.
      Makanya ga heran kalo dimana-mana orang China pada punya toko Mas 😀

    • yeay! Kapan ada waktu ke sana ya Koh.

      Semarang asli deh, banyak banget yang menarik buat dijelajahi.
      Ditunggu postingan tentang Semarang versimu, Koh.

  • Wah, menarik banget walking tournya. Saya belum tahu soal Oei Tiong Ham, hihi. Tulisan ini mencerahkan sekali. Semoga suatu hari nanti bisa ikutan walking tour-nya juga. Kan lumayan banget, hehe.
    Saya setuju, dengan mengenang masa lalu kita bisa belajar. Utamanya banget soal tindakan orang-orang di masa itu. Mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi. Terus melihat ada yang masih bertahan sampai sekarang. Rasanya bangga, ya. Mudah-mudahan makin banyak walking tour seperti ini. Jadi kita bisa makin aware dengan waktu dan ruang tempat kita berada. Hehe.

    • Halo Mas Gara,
      Makasih sudah mampir, meninggalkan jejak dan apresiasinya 🙂

      Yap, setuju banget sama pernyataan mas di atas.
      Walau engga lihat langsung peristiwanya dulu tapi seenggaknya kita jadi tau dan bisa bercerita ke yang lain.
      Semakin banyak yang bercerita semoga semakin banyak juga orang yang tau.

      Kapan-kapan kalau lagi ke Semarang, jangan lupa ikut walking tour ya Mas.

    • halo Mbak Dewi, makasih udah mampir ya 🙂

      Kapan ada waktu ke Semarang, banyak banget hal yang bisa di-explore di sana >.< Boleh bilang-bilang aku juga, siapa tau kita bisa ke sana sama-sama hihi

  • Akhirnya terjawab juga pertanyaanku selama ini setiap kali lewat di Jalan Kyai Saleh Semarang. Ternyata bangunan apik itu dulunya bekas kediaman Oei Tiong Ham ya. Terimakasih sudah berbagi.

    Btw, setiap ke Semarang aku selalu main ke Jalan Kyai Saleh, soalnya -gak jauh dari kantor OJK itu- di situ ada Warung Mangut yang enak bangeeeeet. Masakannya pedes-pedes, cocok sama seleraku 😀

    • Halo Kak BaRT, sebelumnya makasih udah menyempatkan waktu buat mampir ke blog-ku 🙂

      Iya, itu bekas kediaman Oei Tiong Ham dulu. Cuma sayang kami belum ada kesempatan buat masuk ke dalam.
      Aduh, telat nih baru tau ada Warung Mangut di sana. Tempo hari waktu ke sana, saya diajak makan Mangut juga sama Masvay cuma belum kesampean akirnya makan ikan yang di kuah kuning (saya lupa apa namanya).

      Kapan ada kesempatan buat ke sana lagi, musti coba nih Mangut dekat kantor OJK 🙂
      Ehiya, sering melimpir ke Semarang kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Button