Antara Hidup dan Mati Saat Backpacker ke Sabang

Antara Hidup dan Mati Saat Backpacker ke Sabang

Sore itu akhirnya gue berdamai dengan kemauan temen backpacker gue, Dendy. Doi mau ke Sabang setelah sampai Medan. Katanya “Lo udah nyampe Medan, sayang kalo engga ke Sabang!” Gue jawab dengan santai, “Sayang tuh sama orang tua, jangan sama Sabang. Dia aja belum tentu sayang juga sama Lo.” Lalu hening dan gue mau gak mau meng-iya-kan tawaran buat backpacker ke Sabang.

backpacker ke Sabang

Edisi backpacker ke Sabang

Ini bener-bener di luar planning gue sebelumnya. Mendadak ke Sabang teryata jadi perjalanan yang gak mungkin gue lupain. Gimana enggak? Buat mencapai Sabang aja, itu antara hidup dan mati! Serius ini. Gue lagi gak bercanda.

Jadi gini ceritanya…

Sesampainya di Medan, gue sempat debat dengan Dendy untuk memutuskan pergi ke Aceh naik transportasi apa, jam berapa, gimana sama keamanan selama perjalanan dan bla.. bla.. bla.. Banyak pertimbangan. Asli. Kalian tau kan gimana perempuan, pasti semua hal bakal dipikirin. Hal itu aja dipikirin, gimana kamu coba?

Waktu itu kami sempat debat, akan naik bus malam atau pesawat dari Medan ke Aceh. Karena beda harganya lumayan, akhirnya pilihan jatuh pada bus malam. Nah, pas pilih bus malam aja gue debat mau naik bus apa, Bus Putra Pelangi, Sempati Star atau bus antar kota lainnya. Malahan gue diinfo temen yang di Aceh kalo baru-baru itu, Sempati Star sempat kecelakaan terbalik di jalan dan memakan korban jiwa. Makin stress aja kan gue 😂

Sampe akhirnya kami putuskan buat naik bus Putra Pelangi dari Medan ke Aceh yang jam 11 malam. Bus yang bener-bener paling ekonomi karena yang eksekutif seat-nya udah abis. Busnya mirip sama bus pariwisata yang kapasitas 70 orang. Ada fasilitas toilet, selimut, bantal dan live music dangdut yang menemani gue di sepanjang jalan.

backpacker ke Sabang

Bagian dalam bus Putra Pelangi

Walau driver bus agak ugal-ugalan di jalan, Puji Tuhan kami sampai Aceh dengan selamat di jam 12 siang esokan harinya. Lebih dari 12 jam di bus, sempet 2x berenti buat istirahat si driver dan kondekturnya. Sesampainya di Aceh, gue langsung hubungi Bang Yudi, kawan lama di Aceh yang sudah lama dirindukan.

“Li, nanti ke tempat ngopinya naik Gocar atau Grabcar aja ya. Tapi harus keluar dulu dari terminal.” Balesan WA Bang Yudi setelah gue ngajak ketemuan mendadak.

“Iya, siap bang. Paham.” Jawab gue singkat dan langsung order sambil bergumam dalam hati, ternyata di Aceh sama aja kaya di Bogor atau Jakarta, Opang (Ojek Pangkalan) masih sensi sama Ojol (Ojek Online).

backpacker ke Sabang

Urutan dari kiri: Alan, Dendy, gue dan Bang Yudi

So, hari pertama gue di Aceh, gue langsung meet up dengan Bang Yudi dan kawan Dendy, Alan. Setelah ngopi dan ngobrol-ngobrol di warung kopi Blang Padang, kami diantar Alan ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Sabang. Kami naik fast boat yang jam 4 sore. Saatnya backpacker ke Sabang dimulai!

backpacker ke Sabang

Pelabuhan Ulee Iheue Banda Aceh

backpacker ke Sabang

Tiket fast boat Aceh ke Sabang

backpacker ke Sabang

Fast boat Aceh ke Sabang

Bagian atas fast boat Aceh ke Sabang

Bagian dalam fast boat Aceh ke Sabang

Dan lagi, ini yang bikin kaget. Di fast boat gak biasanya gue mabuk laut. Gue gak bisa tidur, gue cuma bisa main HP. Satu pesan WA masuk, “Kak, lagi ada gempa di Aceh, Kalian aman?” Tanya Alan. Gak lama pesan WA dari Bang Yudi masuk, isinya hampir sama, menanyakan keadaan kami.

Keterangan gempa dari twitter BMKG

Dendy lagi asik baca, jantung gue berdebar kencang, udah berdoa gak putus-putus. Yang ada di pikiran gue adalah, nyokap gak boleh tau tentang gempa ini. Nanti doi worry dan mendadak gue disuruh pulang ke Bogor haha masalahnya sampe Sabang aja belom, masa gue udah harus balik lagi? 😂 Jadi gue WA nyokap dan kabarin kalau gue udah otw Sabang, nanti di sana bad signal jadi akan kabarin kalo udah ketemu wifi.

Karena lagi di laut, gempa yang deket aja gak berasa. Kalah sama gerakan ombak. 40 menit berlalu dan Puji Tuhan, kami sampai Sabang dengan selamat.

Welcome to Sabang, Li!

Dermaga Kapal Cepat Balohan Sabang

Mata gue berbinar-binar, liat birunya air laut dan indahnya Sabang. Gak lama kami langsung jumpa dengan Mak Cik Bunga, ibu asal Malaysia yang menikah dengan orang Sabang yang menyewakan motornya seharian buat kami keliling. Dalam waktu 10 menit ngobrol aja, gue bisa tau gimana kisah cintanya, masa-masa perkenalan, PDKT sampai akhirnya ia menikah. Orangnya rame, asli 😄

Lia dan Mak Cik Bunga

Kami dapat pinjaman satu motor + helm. Setelah dapat kunci motor kami lanjut menuju penginapan yang baru di-booking hari itu juga. Eits, karena judulnya backpacker ke Sabang jadi gue harus bener-bener hemat. Dalam waktu 2 hari 1 malam, kita berencana keliling tempat wisata di Sabang. Kemana aja kita selama di sana? Let’s check this out!

 

1. Tugu Nol Kilometer Sabang

backpacker ke Sabang

Tugu Nol Kilometer Sabang

Tugu Nol Kilometer Sabang jadi destinasi pertama. Jam 5 sore baru sampai pelabuhan Balohan tapi mau kejar sunset jam 6. Sedangkan dari pelabuhan ke Tugu Nol Kilometer Sabang takes time around 1 jam sejauh 30 Km. Akhirnya, ngebutlah si Dendy sampai akhirnya 50 menit aja to reach there. WOW! Kebayangkan gimana ngebutnya? Untung gue gak terbang 😂

View this post on Instagram

Cerita soal Sabang. Sekitar 2 tahun lalu sempat menginjakan kaki di Aceh tapi belum sampe Sabang. Sekarang, sudah merencanakan pergi ke Medan tapi dadakan jadi sampe ke Sabang. I thanks God punya kesempatan ke sini. Prosesnya panjang, dari Medan naik bus antar kota ke Banda Aceh. Dari Banda Aceh ke pelabuhan buat naik kapal cepat ke Sabang. Sesampainya di Sabang, musti naik motor sekitar 50 menit buat sampai ke Titik Nol Kilometer. Ehiya, di Sabang cuma ada 2 tempat yg bisa dapat sunset. Pertama di Sabang Fair, ke dua di Titik Nol Kilometer. Dan ini sunset spesial buat kamu dari Titik Nol Kilometer 🙋 Yuk nyusul! #exploresabang #sabang #visitaceh #exploreaceh #hellonusantara #ayopiknik #parapejalan #instatravel #traveloftheworld #discoverindonesia #wonderfuldestinations #exploretocreate #instagood #indonesia #sunset #sunset_ig #sunsetsky #scenery #landscape #livefolk #livefolkindonesia #adventure #photooftheday

A post shared by L I A N A (@lianawati17) on

Ternyata gak sia-sia, akhirnya kami sampai di Tugu Nol Kilometer Sabang buat liat sunset terbaik. Gue langsung kaya anak kecil, rasanya mau jingkrak-jingkrak sendiri bisa berada di tempat paling ujung baratnya Indonesia. Gue langsung naik ke atas tugu, nikmatin sunset sampai matahari mulai gelap dan semua warung makanan dan souvenir tutup.

backpacker ke Sabang

Mengintip sunset dari dalam tugu

Gak ada tiket masuk untuk naik dan berfoto ke Tugu Nol Kilometer Sabang. Yang penting kaki Kalian kuat manjat puluhan anak tangga. Gue aja yang abis naik motor 50 menit sampe bokong hampir tepos, gendong tas gede isi pakaian buat 8 hari, kuat-kuat aja walau sampe atas langsung lemes haha. Terbayar lelahnya dengan pemandangan cantik sunset di Sabang.

backpacker ke Sabang

Tangga menuju atas tugu

#KalianTauGakSih?

Ternyata ada tugu nol kilometer juga di Merauke tepatnya di Sota. Letaknya sekitar 90 km dari Kota Merauke.

 

backpacker ke Sabang

Bagian Tugu Nol Kilometer Sabang

Hari mulai gelap, kami langsung bergegas menuju penginapan di daerah Pantai Iboih. Hanya mengandalkan offline map, udah setengah jam perjalanan terus pake acara nyasar sampe gak nemu dimana penginapannya. Di tengah nyasarnya kami, pikiran liar gue keluar, “Den, di hutan kaya gini masih ada harimau gak sih?” Tanya gue. Tiba-tiba ada cahaya dari surga lawan arah, ternyata itu bentornya Mak Cik Bunga dengan suaminya. Mereka menemukan kami yang tersesat dan membawa kami ke jalan yang benar arah penginapan. Praise the Lord!

Gak sampai 15 menit, kami sampai penginapan. Kamar gue tepat di seberang kamar Dendy. FYI, walau Kalian niat backpacker ke Sabang, Kalian gak bisa share cost dengan teman yang lawan jenis. Di sini gak boleh satu kamar walau pakai twin bed, yang boleh satu kamar cuma buat pasangan yang sudah menikah aja. Sampe kamar gue bersih-bersih, makan di penginapan dan istirahat. Hari pertamapun sudah kami nikmati dengan penuh hal-hal tak terduga 😂

 

 

Psstt.. Baca pengalaman seru gue waktu berkunjung ke Lamreh Aceh yang punya mantra!

 

2. Pantai Iboih Sabang

View this post on Instagram

Masih tentang Sabang dan ceritanya yang masih gue kumpulkan. Ternyata mengingat-ingat kejadian di masa lalu itu punya sensasinya sendiri ya? 😁 Serius ini, ada serunya. Sensasi merekam kembali semua ingatan yg ada di kepala. Seolah berjalan mundur ke beberapa waktu yang lalu. Kalau kalian ada kesempatan buat kembali ke masa lalu, apa yg bakal kalian lakuin? 🙊 Haha, ini namanya Pantai Iboih, dulu homestay gue di Sabang letaknya dekat sini. Ngesot juga sampe depan pantai, pas tidur aja suara deburan ombaknya kedengeran jelas. Btw, sabar ya, baru selesai nulis. Bentar lagi mau upload new post cuma gue masih edit-edit foto 😁😂 __________________________________________ Tags: #exploresabang #pantaiiboih #sabang #exploreindonesia #pesonaindonesia #visitindonesia #exploretocreate #visualoflife #artofvisuals #moodygrams #instagood #travelphotography #travelblogger #ceritaliana #letswegoout #indonesia_photography #indonesiabagus #photooftheday #sonyalpha #vsco #picoftheday

A post shared by L I A N A (@lianawati17) on

Hari kedua backpacker ke Sabang, yeay! Finally gue bisa mandi dan keramas setelah kemarin kecapean dan langsung tepar. Kami pilih penginapan di kawasan Pantai Iboih karena harganya lebih murah dan nyaman buat bersantai. Ukuran kamarnya juga cukup besar, ber-AC, ada lemari, tempat jemuran dan dua handuk, sabun, sendal kamar, toilet, water heater dan wifi-nya kenceng.

backpacker ke Sabang

Kamar gue

backpacker ke Sabang

Seberangnya kamar Dendy

Kami check out lalu siap-siap explore Pantai Iboih. Ngesot dikit langsung sampai ke pantai. Pasir putih lembutnya menjadi daya tarik bagi wisatawan, ditambah lagi birunya air laut. Bikin gue mau berenang haha. Perahu-perahu nelayan dipinggir pantai juga bikin foto kita makin instagramable, gue suka menikmati pagi dan ditemani langit yang cerah di Pantai Iboih.

backpacker ke Sabang

Asyik nih nge-vlog di pantai Iboih

backpacker ke Sabang

Pasir putih di Pantai Iboih Sabang

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakuin di sana, misalnya snorkeling dan diving ke Pulau Rubiah. Cukup 10 menit aja dari Pantai Iboih ke Pulau Rubiah. Harganya sekitar Rp 30.000 untuk snorkling termasuk perlengkapannya. Sedangkan untuk sewa perahu sekitar Rp 300.000 kapasitas 4-8 orang. Kalau diving, harganya sekitar Rp 400.000-an per orang termasuk instruktur diving-nya.

 

#KalianTauGakSih?

Sebenarnya Pantai Iboih itu pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Rubiah. Tapi karena pemandangan Pantai Iboih tak kalah cantiknya, jadi banyak wisatawan yang tertarik menghabiskan waktu di sana. Pantai Iboih juga mendapat julukan ‘A Piece of Heaven‘.

 

Sempat dapet info dari warga lokal, kalau snorkling di Pulau Rubiah nanti bisa melihat anak-anak hiu yang berenang di kedalaman 2-3 meter. Kalian gak perlu takut, asal gak ada bau darah aman kok berenang dekat mereka. Sayangnya waktu ke sana, gue gak sempet nyoba snorkeling karena keterbatasan waktu. Apa lagi gue juga belum sempet coba sate gurita, makanan khas Sabang. Duh, take me there, bang!

 

 

3. Gua Sarang Sabang

backpacker ke Sabang

Gua Sarang Sabang

Selanjutnya berkelana ke Gua Sarang yang katanya Raja Ampatnya Sabang. Perjalanan sekitar 10 menit dari Pantai Iboih, masih naik motor. Walau cuma 10 menit, proses menuju lokasinya bikin deg-deg-an ser juga guys! Di perjalanannya itu banyak tikungan tajam, jurang-jurang di pinggiran jalan, ada bekas longsor juga, gak lama gue nemu babi hutan dan monyet-monyet liar nyeberang ke hutan, sampai akhirnya gue ketemu kehidupan lagi sekitar Komplek TNI AD Kompi Balek Gunung. Gak lama dari situ, akhirnya sampai Gua Sarang.

Kalian bisa parkir motor sekalian titip helm di atas Gua. Nah, posisi gue ini harus turun dulu beberapa anak tangga dari tempat parkir motor buat titip tas di tukang es kelapa. Di sana ada spot ayunan yang instagramable banget kalo difoto. Lanjut turun beberapa puluh anak tangga untuk mencapai Gua Sarang.

backpacker ke Sabang

Tempat minum kelapa di Gua Sarang

backpacker ke Sabang

Ayunan instagramable di Gua Sarang Sabang

backpacker ke Sabang

Jalan menuju Gua Sarang Sabang

Sesampainya di bawah, gue langsung disambut air bening di pinggir Gua. Lanjut berjalan di bawah pepohonan rindang dan jalanan yang berbatu untuk mencapai mulut Gua. Ada 3 mulut Gua yang sebetulnya bisa di-explore, cuma kita gak boleh explore sendiri dan perlu didampingi guide karena di dalam lembab dan licin.

backpacker ke Sabang

Pemandangan yang menyambut gue sesampainya di bawah

backpacker ke Sabang

Pesona Gua Sarang Sabang

backpacker ke Sabang

Sisi lain dari Gua Sarang Sabang

backpacker ke Sabang

Tumpukan batu di Gua Sarang Sabang

backpacker ke Sabang

3 Mulut Gua

backpacker ke Sabang

Jalanan yang berbatu

backpacker ke Sabang

Larangan masuk ke mulut Gua bagi yang sedang haid

Lanjut naik ke atas lagi sekalian ambil tas, gue minum kelapa seger pas lagi haus-hausnya. Gila, rasanya gak ada hal yang lebih nikmat selain itu 😝 Gua Sarang jadi destinasi wajib pokoknya ketika kalian backpacker ke Sabang!

backpacker ke Sabang

Segarnya minum kelapa muda di Gua Sarang

backpacker ke Sabang

Minum kelapa segar terus viewnya begini

 

Penasaran gak sama gereja mirip kuil di Medan? Intip 3 tempat wisata religi di kota Medan!

 

4. Kota Sabang

backpacker ke Sabang

Aneka makanan di rumah makan Sabang

backpacker ke Sabang

Gulai bebek favorit

Setelah menyambangi Gua Sarang, kami lanjut pergi ke Kota Sabang. Tapi waktu benar-benar terbatas karena kita harus pulang ke Aceh naik fast boat yang jam 4 sore. Alhasil, sampai di Kota Sabang cuma buat isi perut yang udah gak tertahan lagi. Tapi seenggaknya kami sempat menginjakan kaki di Kota Sabang sebelum pulang *lalu pukpuk diri sendiri.

Loket pembelian tiket di pelabuhan Balohan

backpacker ke Sabang

Info penyeberangan fast boat

 

Nah, itu dia 4 tempat wisata di Sabang yang sempat kami singgahi. Rasanya memang gak cukup waktu 2 hari untuk keliling Sabang, butuh waktu seenggaknya satu minggu. Backpacker ke Sabang emang seru banget, asli! Kalian bakal ngerasa punya pulau sendiri.

Sekalian gue mau info nih, sebetulnya ada beberapa pilihan transportasi di Sabang jadi bukan cuma motor aja. Ada bentor (becak motor), taxi berupa mobil pribadi juga ada. Cuma memang kalau mau backpacker ke Sabang dengan budget hemat baiknya sewa motor aja. Hitungan sewanya per 24 jam gak termasuk bensin dan dapet pinjeman helm.

Dan untuk boat dari Aceh ke Sabang dan sebaliknya, ada dua pilihan. Pertama fast boat dengan waktu tempuh 40 menit tapi harga lebih tinggi, kedua kapal lambat dengan waktu tempuh 2 jam dan harga tiket Rp 25.000 per orang. Ya, walaupun judulnya backpacker ke Sabang karena kami punya keterbatasan waktu akhirnya jadi naik fast boat.

Itu dia cerita backpacker ke Sabang gue yang rasanya bener-bener antara hidup dan mati. Mulai dari naik bus malam antar kota, gempa saat di laut, nyasar di hutan pas hari udah gelap, melewati lika-liku jalan ke Gua Sarang sampai ngebut satu kilometer per jam cuma dalam dua menit aja di Sabang.

Adakah dari temen-temen yang pernah backpacker ke Sabang juga? Atau punya pengalaman trip yang lebih bikin deg-deg-an dari cerita gue? Boleh share pengalaman serunya di kolom komentar 😊

Selamat jalan-jalan, jangan lupa cerita!

Info Budget Backpacker ke Sabang

Tiket Bus Putro Pelangi dari Medan ke Aceh: Rp 185.000

Tiket fast boat Aceh ke Sabang (PP): Rp 80.000 x 2 = Rp 160.000

Sewa Motor di Sabang: Rp 100.000 untuk 24 jam, belum termasuk bensin (isi bensin Rp 20.000)

Bungalau Star Iboih: Rp 250.000/ malam

Tiket Masuk Gua Sarang: Rp 5.000/ orang

Es Kelapa di Gua Sarang: Rp 15.000/ buah

 



91 thoughts on “Antara Hidup dan Mati Saat Backpacker ke Sabang”

  • Wah ketemu sama Bang Yudi Randa 😀 . Aku baru denger *baca ding* Gua Sarang di tulisan Mbak Lidia ini loh. Kalo yang lain udah sering denger. Itu kenapa kok perempuan haid gak boleh masuk ya ? Penasaran

    • Wahiyaaaaa, ketemu Bang Yud. Teman jugakah, Bu Dila?

      Gua Sarang ternyata udah hits banget di sana Bu, cuma emang perjalanan menuju ke sana bikin deg-deg-an.
      Kapan ada waktu, mampir ke sana ya Bu. Tapi ati-ati nanti jadi gak mau pulang :p

      Hmm.. soal kenapa perempuan haid gak boleh masuk juga masih jadi tanda tanya buat saya.
      soalnya pas baca, tanya ke orang yang ada di sekitar sana juga gak diinfo alasannya.
      katanya sih udah aturan dari yang sebelum-sebelumnya Bu.

  • Waaaaa, seru banget cerita backpacking ke Sabangnya. Sampe ada nyasar2nya juga. Btw dulu ku pernah baca katanya kl berkunjung ke titik nol km bakal dapat semacam sertifikat . Bener nggak sih?

    • iya, bikin deg-deg-an banget kak 😀
      buat sertifikat itu bisa beli kak, biasanya ada ibu-ibu yang nawarin buat bikin sertifikat biayanya 20rb.
      nanti langsung diisi nama lengkap dan diinfo kita wisatawan nomor urut kesekian yang sampe di sana.
      sayang pas saya ke sana, ga ada ibu-ibu yang nawarin mungkin karena saya sampenya udah sore banget kak.

  • bus putro pelanginya seat nya 2-2 walapun yang AC ekonomi,kalo di jawa kayaknya 3-2
    Iya ya ke sabang biar mantep paling nggak seminggu. cepet banget ceritanya 2 hari ini. Paling nggak udah menjejakkan kaki ke pulau paling ujung barat indo

    • Iya betul sekali kak. rasa-rasanya tinggal di sana juga suka, damai banget berasa pulau sendiri hihi
      setuju, walau masih banyak destinasi yang belum dijelajahi. jadi ada alasan untuk kembali juga 🙂

      yuk nyusul kak!

  • Pemandangan di mulut Goa Sarang Sabang itu bener2 keren banget Mba. Seneng banget ya bisa merasakan mampir ke tempat yang ada di paling ujung Barat Indonesia. Next harus ke tugu yang ada di ujung Timur, yg ada di Merauke Mba, supaya jadi treveler penjelajah dari ujung Barat ke ujung Timur Indonesia 😀 😀

    • Iya pak, Gua Sarang ciptan Tuhan yang gak bisa dilewatin gitu aja.
      Kalau ada kesempatan ke Sabang jgn lupa mampir ke sana ya pak.

      Amin banget pak, semoga bisa terealisasikan buat menginjakan kaki di ujung timur Indonesia 🙇‍♀️

  • Tulisan2 mb liana asyik…jd berasa beneran ke aceh. Suamiku mb yang pernah ke sabang…aku mah..dioleh-olehin kaos ma gantungan kunci doang😀😀

    • terima kasih mbak Sulis buat apresiasinya 🙂
      Sabang asyik! aku masih berhutang buat kembali. Mbak kapan ke sana? Mungkin bisa bareng.
      kemarin udah dpt oleh-olehnya, nanti mbaknya gantian yg bawain oleh-oleh buat yg lain hihi

      yuk berangkat!

  • Seru ya mba backpackeran kesana.. . Walai ada transport alternatif , motor memang pilihan yg pas. Bisa keling tempat yg bisa dijangkau mobil. Tarikannya jg lbh kuat motor ketimbang becak motor.

    Snorklingan masih bisa lihat hiu berarti masih alami sekali pantainya.

    Oh ya, mungkin bisa di link an blognya di aun gplusnya mba.. Biar bisa ngetrack dan nyecroll tulisan mba lia..

    • iya mas, setuju! motor memang lebih praktis dibanding kendaraan lain ketika di Sabang.

      pulau Rubiah memang masih alami mas, masih cantik banget.
      cuma saya belum berkesempatan ke sana, jadi ada alasan untuk kembali lagi hihi

      iya mas, makasih sudah diinfo ya.
      kemarin sudah di-link-kan cuma ada eror diblog-ku dan masih proses perbaikan nih mas.
      nanti kalau sudah di-fix eror-nya pasti kembali normal lagi 🙂

  • Itinerary nya bisa banget di contek buat aku ke Sabang tahun depan 🙂 Saya bisa merasakan gimana horornya busa di Medan yang di jalan yang meliuk pun tetap melaju kencang dan nggak mau kalah dengan lainnya hehehe tapi nggak lebih menakutkan dari bus sumber kencono di Jatim hehehe…. Jadi paling enak berapa hari kalo ke Sabang agar bisa mencapai semua wisata di sana?

    • yeay! asyik mbak Fika mau ke Sabang. paling cepet 5 hari cukup atau kalau mau puas, seminggulah mbak biar keliling semuanya 😀

      btw aku belum pernah naik bus Sumber Kencono Jatim. tp bus antar kota kemarin, bikin aku kapok juga mbak.
      horor banget, malah malem-malem berangkatnya 😂

  • Hi Liana, seru banget baca ceritanya. Serem ya kalo sampe ada gempa, karena masih trauma waktu tsunami dulu.

    BTW, saya November 2017 ke Sabang dan Aceh 3 hari 2 malam. Ke Tugu nol Kilometer, Goa Sarang, tapi gak ke bawahnya, terus ke Masjid Agung Sabang, disitu ada warung kopi sanger yang ngetop, terus ke tugu welcome Sabang, ke Goa Jepang dan Pantai Iboih. Pemandangannya emang bagus banget deh, udah gitu makanannya juga saya suka banget, hehehe…

    Backpackeran seru banget pasti ya mba, tapi kebanyakan debat sama Dandy, hehehe, udah kayak debat di DPR…

    Nice sharing…

    • Hi Mas Hen, senang sekali blogku dimampirin mas Hen 🙂

      asyik ya! tripmu seru banget, 3 hari dapet banyak destinasi.
      saya memang harus balik lagi nih, belum coba sate gurita soalnya mas.

      iya, pertemanan harus ada debatnya biar seru 😂
      yang penting sekarang udah damai lagi, gak tau nanti kalo ngetrip lagi mas haha

      • Kalo dari Medan mah deket ya mba, waktu itu saya dari Jakarta, hahaha. Saya udah dong nyobain sate gurita, mie jalak (sabang), mie aceh, pokoknya luar biasa dan bikin kangen pengen balik lagi,

        • deket mas, lumayan. starting Medan tinggal naik bus antar kota atau pesawat buat ke Aceh.
          nah dari Aceh tinggal ke Sabang naik fast boat atau kapal lambat.

          wah, tuh kan banyak kuliner yang belum saya coba haha
          bener-bener mesti balik lg mas Hen 😀

    • Iya mas Aris, enak dan pedas.
      Sebetulnya bukan kuliner lokal Sabang mas, yang bener-bener lokal sana itu sate gurita yang terkenal enaknya.
      nanti kalau ke Sabang bisa coba makanan gulai bebek mas di kotanya, juara banget rasanya 🙂

        • iya mas, sate gurita, masnya gak salah baca kok 😀

          itu enak pake banget katanya cuma sayang saya juga belum sempet coba.
          tapi jadi ada alasan untuk kembali deh hihi

          semoga bisa segera ke sana ya mas 🙂

  • WOW!!! Pemandangannya cakeeeep beneer… duh, bener2 gak nyesel sampai sana ya mba… TFS pengalaman keren ini… Semoga suatu saat aku bisa sampai sana pula,.. Aamiin…

    • amin, semoga bisa disegerakan sampai Sabang ya mbak 🙂
      indah dan bener-bener bikin nagih stay di sana, nanti mbak Mechta kalau ke sana pasti gak mau pulang hihi

    • Ayo mbak Anisa ke Sabang juga! 😀
      wah, bukannya bener ya mbak kalau Sabang itu ada di ujung baratnya Indonesia, sedangkan unjung timurnya itu kota Merauke. CMIIW mbak.
      *brb cek peta 😂

    • iya cantik banget emng mbak.
      ada, dan pastinya akan kembali. cuma waktunya belum tau kapan.
      mbak Tika dalam waktu dekat ini berencana ke Sabangkah? 😄

  • Wah kebayang nih nekatnya jalan dari Medan ke Sabang dengan waktu yang terbatas.
    Kalo aku pasti pilih eksplor deket-deketnya Medan yang juga menarik.
    Eh tapi kalo diajakin ke Sabang ya penasaran juga sih, apalagi habis baca post ini, agenda buat tahun depan ah.

    • wah, bukan main kak Din.
      hampir-hampir mau ribut rasanya, pilih kendaraan aja berantem. tapi ternyata Sabang ciamik banget.
      sekali seumur idup mah harus coba ke sana kak 😀
      ati-ati gak mau pulang nanti ya, indah banget soalnya kalo liat langsung hihi

  • Wahh pemandangannya indah banget ya..

    Walau saya 18 tahun tinggal di kota Medan,
    sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Sabang.
    Ini pasti istimewa banget, apalagi di KM 0.
    Wilayah paling ujung, baratnya Indonesia.

    Semoga next ada kesempatannya kesana.

    • Iya Bun, Sabang indahnya kebangetan 🙂

      Wah, kalau gitu sekali-kali kalau ada waktu mesti melimpir ke Sabang Bun biar bisa menginjakan kaki di ujung barat Indonesia.

      Amin, semoga disegerakan ke sana ya Bun.
      salam kenal dan terima kasih sudah mampir 🙂

  • Sabangnya udah, Papuanya kapan? Kwkwkw 😆
    Eh tapi serem itu naik busnya, soalnya sempat lihat kondisi jalanan ke Sabang. Kayak curam gitu kan.
    Itu pas gempa disana pasti udah mikir aneh2 kan ya 😀

    • Nah itu dia kak Hans, Papua-nya kapan yaaa? 😂

      asli, serem kak. antara hidup dan mati banget.
      syukur-syukur sampe dgn selamat haha

      bukan main kak, doa gak ada putus2nya itu wkwk
      dan ternyata orang Aceh udah pada biasa sama gempa yg kecil-kecil begitu.
      kalo aku, denger gempa aja udah dag-dig-dug parah haha

  • Seru banget backpacking ke Sabang-nya, Mba! Tapi serem juga ya kalo tiba-tiba dapet info gempa pas lagi menuju Sabang.
    But thank God masih diberi keselamatan sama Tuhan. 🙂

    • Yeay! seru bukan main kak Heri.
      bener-bener Puji Tuhan masih bisa sampe dan masih bisa nulis di blog soal ini 😀

      terima kasih sudah mampir 🙂

  • Asli aku ngiri banget dan kangen sama sabang….kemarin nggak sempat nginap disana…(padah pingin sekali). Mudahan suatu saat eksplore sabang selama beberapa hari.

    • Iya, ciamik banget mbak Yen.
      Apa lagi kalau liat Sabang secara langsung, nanti bisa-bisa Mbak ndak mau pulang 😆

      Dendy itu teman baikku, dia selebgram asal Padang.
      Suka nge-vlog juga hihi

      terima kasih sudah mampir ya Mbak Yen 🙂

  • Aku tu deg2an bgt pas mbak li dapat sms tentang gempa aceh.. Hamdallah gempanya nggak begitu terasa di laut ya, sehat2 trus lho mbak.. Indonesia emg indah bangeeet ya

    • Iya Mbak El, rasanya kalo sekarang diinget-inget itu antara deg-deg-an sama senyum-senyum sendiri.
      Pengalaman yg gak bisa dilupain 😀

      Segera nyusul Mbak ke Sabang 🙂

  • Dua kali ke aceh, tapi belum ke sabang itu rasanya seperti ada rasa yang tertinggal…hahahaa
    Semoga bisa ke aceh lagi, kemudian lanjut ke sabang beberapa hari 😀

    Oyaa, aku juga udah pernah makan gulai bebek, rasanya enak banget 😀
    Kalo sepanjang jalur medan-aceh ada bus malam, mendingan ngalah aja. Biar mereka lewat duluan aja…oyaa, bus2 dengan teknologi terbaik malah banyak di jalur medan-aceh 😀

    Ayo kita ke aceh lagi 😀

    • Haha, ayoklah balik lagi Masvay!
      Nanti jangan tanggung-tanggung, seminggu gitu stay di Sabang biar bisa keliling semua tempat.

      Wahiya? Aku baru tau kalau bus-bus dengan teknologi terbaik ada di sana.
      Pas pulang dari Aceh ke Medan, aku naik double decker hihi
      Jadi gak sabar mau ceritain di blog juga 😀

      Makasih infonya dan makasih udah mampir Mas.

  • Aduh, aku membayangkan, saat berada di tengah laut tiba-tiba tahu ada gempa. Apa lagi sedang di Aceh yang terkenal dengan Tsunami-nya. Bisa kalut gak karuan pasti. Alhamdulillah everything was okey ya Mbak. Cakep-cakep fotonya

    • Puji Tuhan Bu Ev, semua aman sampai akhirnya saya bisa bagian cerita ini ke temna-teman 🙂
      Pengalaman yang gak bisa dilupain Bu, tetep aja saya menunggu-nunggu sensasi backpacker ke tempat lain hihi

      Terima kasih buat apresiasi dan waktunya Bu 🙂

  • hallo li, wahhh makin lihai aja lo bercerita ya? hahaha.. SABANG 🙁 one of my dream yang belum sempat dijalani nih… gimana hidup jadi backpacker lI? sehat sehat selama perjalanan ya nantinya.. see you someday in the road

    • Haha, hasil didikan Mas Adhit nih :p

      Rinjani kan lu udah Dhit, semoga bisa disegerakan buat berkelana ke Sabang ya.
      Puji Tuhan gue sehat-sehat aja walau hampir jadi gembel di sana pas keabisan duit wkwk

      Pastinya Dhit, lu juga ya, kudu sehat dan sampe ketemu di jalan.
      Eh, janjian di Jkt juga gampang bet haha

      Selamat jalan-jalan Dhit, jangan lupa cerita!

  • Selamat udah ke Sabang, Liii. One of my bucket list yang belum kesampaian. Gue baru tau Gua Sarang, nambah lagi nih infonya. Kalau cuma mampir makan berarti belum eksplor kota Sabang-nya dong ya, padahal kayaknya menarik menyusuri sejarah di sana. Gimana kota yang dulunya sibuk sekarang jadi peradaban yang nggak diperhitungkan.

    Tuhan menyertaimu di sepanjang perjalanan

    • Hi kak Mat, many thanks! haha
      Sampe ke ujung baratnya Indo emang jadi hal yang gak akan terlupakan.

      Kuy kak ke Sabang! Semoga bisa disegerakan ya sampai ke sana 🙂
      Gue juga kurang banget explore di sana, waktu bener-bener singkat ketika kita menikmatinya haha
      Emng selalu ada alasan buat kembali nih.

      Makasih ya kak, makasih juga udah mampir.
      Selamat jalan-jalan, jangan lupa cerita!

  • I feel u hahaha. Pernah ngerasain gempa pas traveling (Gempa Nepal yang gede itu, aku di Varanasi, India, kerasa!) dan cuma mikir, “ibu gak boleh tahu nih!” haha. Ujungnya sih dia tahu dan lega anaknya baik-baik saja. Gak kebayang kalau langsung disuruh pulang 😀

    Namanya juga emakemak ya ^^

    • wah hampir senasib kita Mas. cuma kamu lebih ekstrem aja ceritanya 😂
      Puji Syukur kita masih baik-baik aja ya, masih bisa cerita hal seru itu ke orang terdekat sambil ketawa-tawa.

      terima kasih sudah mampir, mas 🙂

  • oo gitu. perempuan haid ga boleh masuk gua sarang yak.. mungkin sama kayak di beberapa tempat suci yang melarang perempuan haid untuk masuk….

    • Iya betul Mas Uwan.
      Pas ditanya ke warga lokal di sana, katanya memang sudah aturan dari jaman dulu.
      Tapi ndak dikaish penjelasan kenapa ndak boleh, saya juga ikut penasaran 😀

      terima kasih sudah mampir, mas 🙂

  • seruuu.. tapi bikn deg2an juga ya baca pengalaman mbak Liana..
    bener udah nyampai Medan, sekalian saja cus ke Sabang ya
    kepengen deh ikutan lihatsenja di ujung barat sni.., langsung ke laut lepas

    • Iya kak Monda, cantik kali Sabang itu 🙂
      Semoga bisa disegerakan ke sana ya. amin.

      Nanti kalau jalan-jalan ke Sabang, jangan lupa cerita ya!

  • ceritanya seru banget, dan saya pun pernah merasakan hal yang sama ketika ke sabang dan tiba2 ada kabar gempa saat berada di laut menuju pulau weh.

    btw ada 1 destinasi seru yang ketinggalan nih tapi dekeet, deket iboih tuh ada air terjun yang jaraknya cuma 1km aja lho, mayan bisa mandi2 dan leyeh2 manjah disana hahaa

    • wahahah serius kak? Tos!
      syukurnya kita masih bisa ngeblog dengan baik di sini ya 😀

      wih, ketinggalan.
      emng harus balik lg ke Sabang ini mah kak, masih banyak yg belum di-explore soalnya hihi
      makasih infonya ya 🙂

  • Nah ini nih, salah satu pulau yang pengen banget saya kunjungi. Mengingat tiket pesawat yang lumayan mahal, jadi kayaknya harus nabung dengan keras nih…ahaha semoga bisa segera sampai ke sana. Amiiin.

    Thanks ya udah berbagi cerita.

    • saya kemarin pas ke Sabang juga via Medan mas, dan itu lagi dapet tiket gratis dari teman hihi
      amin, semoga bisa disegerakan ya mas 🙂

      terima kasih sudah mampir juga mas, salam kenal ya.

  • Duh sabang, jadi kangen, aku ke sabang sendirian lho dari jakarta sampai tugu nol kilometer, agak2 hahace berani, dari pelabuhan naik ojeg sampai tugu nol kilometer, selain indah, sate gurita di sabang enaaaak

    • wahaha serius sendirian kak?
      aku ga berani kalo sendirian, itu berdua aja rasanya antara hidup dan mati >.< dan aku belum nyoba sate guritanya, dududu harus balik lg ini mah.

  • Tetiba kangen Pantai Iboih pas baca tulisan ini, pengen ke Sabang lagi ah jadi kangen Aceh sama kulinerannya juga, sama kopi nya juga. Btw suka banget sama foto2 IG nya Mbak hehhehe, keren2 ya 😄

    • Aish, yuk berangkat lagi mas Didy ke Aceh! Aceh memang ngangenin, punya cerita sendiri.
      Terima kasih buat waktunya sudah mampir dan intip IG saya, jgn lupa di-follow ya 😀

  • Salam kenal mbak Liana.. aku Rifia..
    Aku juga baru dari Sabang nih, Juni 2018 setelah 12 tahun nggak menginjakkan kaki di sana.
    Sunset di KM 0 bagus ya, sayang kemarin aku ke km 0 nya pagi. Next pengen ah ngerasain sunset di km 0

    Btw Gua Sarang bagus sih, tapi agak serem liat ombaknya. Kemarin ke sana berdua temen, nggak lama2 langsung naik ke atas karna takut ombak

    • Hi, salam kenal kak Rifia. nice to e-meet you 🙂

      iya, sunset-nya Sabang cantik sekali.
      tapi aku udah kebayang, sunrise-nya pasti gak kalah cantik hihi

      wah iya kah?
      kebetulan waktu aku ke Gua Sarang, ombak lagi adem ayem kak, jadi kami betah dan berani berlama-lama di sana.
      cuma pas mau naik dari bawahnya itu ya, macam olah raga berat, naik puluhan anak tangga.
      kukira 2 kilo lemakku tertinggal di bawah ternyata engga 😀

  • Seru banget ya bisa ke ujung Nusantara. Saya belum pernah ke Sumatera. Ternyata kalau perempuan ke Aceh ga pakai krudung nggak apa-apa ya mbak?

    Kalau saya udah nemu pantai kayak Iboih udah pasti berenang mbak yang penting ga ada ombak ganas dan ga ada hewan laut mematikan 😙😎

    Mbak jangan lupa follow twitter saya balik ya di @jessmite
    Thank you🤗

    • Iya, gpp toh Mbak. Kebetulan saya juga non muslim dan Puji Tuhan, teman-teman di sana welcome sama saya 🙂

      hihi aku mau berenang di sana, waktunya ndak keburu Mbak.
      kurang rasanya explore Sabang kalau cuma 2 hari 1 malam mah, min kudu 3 hari nih keknya >.< siap, tak follow balik ya Mbak 🙂

    • Wah, iya banget mas. apa lagi larinya itu dengan pemandangan pantai. duh, seger bener, bisa-bisa gak cape-cape tuh lari terus 😀

      terima kasih sudah mampir mas, salam kenal 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Button